Rabu, 17 April 2019

Semi Revolusi Demokrasi di Indonesia


Semi Revolusi Demokrasi di Indonesia - Indonesia telah berusia hampir 75 tahun, dan salah-satu isu yang melekat adalah soal demokrasi.

Ketika Indonesia menjelang merdeka, para pendiri bangsa ini bermusyawarah, yang tentu diwarnai oleh perdebatan, tentang bentuk negara yang akan dipilih.

Berbagai bentuk negara seperti kerajaan, kesultanan, federal, hingga republik diusulkan. Akhirnya bentuk republik inilah yang disepakati, tentunya demokrasilah yang digunakan sebagai azas.

Diawal lahirnya Republik Indonesia, yang digunakan adalah demokrasi terpimpin. Pada saat itu bahkan sampai ada wacana pengangkatan presiden seumur hidup.

Demokrasi terpimpin adalah sebuah sistem demokrasi di mana seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara, kala itu Presiden Soekarno. Konsep sistem Demokrasi Terpimpin pertama kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan sidang konstituante pada tanggal 10 November1956.

Secara jelas Demokrasi Terpimpin dilaksanakan di jaman Orde Lama berkuasa. Kemudian di jaman Orde Baru berkembang dogma Demokrasi Pancasila, pengertiannya adalah demokrasi yang diselenggaran berasaskan Pancasila, dan fokusnya adalah pada sila ke-4 yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Pada akhirnya ada sebuah simpulan bahwa Orde Baru sekalipun sesungguhnya menjalankan demokrasi terpimpin, tetapi dengan penekanan pada penghayatan Pancasila yang lebih rinci diuraikan.

Demikianlah, di jaman Orde Baru kita mengenal P4 yang merupakan singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Juga dikenal 36 butir Pancasila.

Pada sistem demokrasi tentu dikenal praktek pemilu, dan pada jaman Orde Baru dikenal akronim luber yaitu langsung umum bebas rahasia.

Masih di jaman Orde Baru pula, akronim luber ini bisa pula diartikan sebagai lubangi beringin. Ya, luber = lubangi beringin. Maklumlah, sudah menjadi rahasia umum bahwa lambang beringin adalah mindset yang ditanamkan sedemikian masif dan sistemik.

Oh ya, nampaknya eksistensi partai dewasa ini sudah tidak lagi greget, artinya figurlah yang akan lebih dijadikan patokan untuk dipilih atau tidak, disukai atau tidak. Hal seperti ini nampak jelas pada sosok Risma yang kader PDI-P. Bisa saja banyak orang tidak menyukai PDI-P tetapi mereka menyukai Risma. Dan bila sudah disukai tentu akan dipilih.

Demikianlah artikel dari Situskita yang berjudul Semi Revolusi Demokrasi di Indonesia, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.

Lucky Bachtiar

Seorang blogger pemula yang tidak lagi muda