Minggu, 05 Mei 2019

Puasa di antara Inti Ajaran dan Tradisi

Puasa di antara Inti Ajaran dan Tradisi - Bulan Ramadhan telah tiba, pertanda bahwa kaum muslimin sedunia melaksanakan Rukun Islam yang ke-4, yaitu berpuasa wajib. Menurut referensi fikih terdahulu, seperti dalam kitab al-Taqrirat al-Sadidah fil-Masail al-Mufidah Juz 1 halaman 434-435, dijelaskan bahwa ada 6 (enam) puasa yang hukumnya wajib,  harus dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan, yaitu:
  1. Puasa Ramadhan;
  2. Puasa al-Qadla', yakni puasa untuk mengganti sejumlah puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena sakit parah, karena bepergian jauh (safar), atau karena menstruasi di bulan Ramadhan;
  3. Puasa Kafarat seperti kafarat dzihar atau kafarat pembunuhan atau puasa dua bulan berturut-turut sebagai kafarat jimak pada siang hari Ramadlan;
  4. Puasa dalam haji dan umrah sebagai ganti dari penyembelihan hewan untuk fidyah;
  5. Puasa untuk al-istisqa' (shalat minta hujan) apabila diperintahkan oleh pemerintah;
  6. Puasa Nadzar.
Dasar dari perintah puasa adalah :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183)
Dari ayat tersebut jelas ada inti ajaran yaitu bahwa kewajiban berpuasa dilaksanakan oleh kaum muslimin agar bertaqwa. Jadi bukan sekedar bertujuan agar tubuh menjadi sehat.


Untuk bisa mencapai target taqwa, tentu ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, sebagaimana tata cara pelaksaannya dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. dari semua yang dicontohkan tersebut, hakikatnya adalah pada penyederhanaan, termasuk pada pola makan.

Dapatlah kita membayangkan bahwa dalam urusan makan, rasulullah itu sangat sederhana, dan makin sederhana lagi ketika menjalankan puasa. Dan hal ini semestinya bisa diterima secara logis karena di saat puasa kita telah menghilangkan rutinitas makan siang. Tapi bagaimana kenyataannya pada umat-umat di jaman sekarang? Mari kita teruskan pembahasannya.

Inti ajaran yang mengharuskan kaum muslimin menyederhanakan pola makan misalnya, justru berbenturan dengan tradisi yang semakin hari semakin berkembang ke arah ketidaksederhanaan. Hal ini ditandai oleh beberapa hal seperti :
  1. Maraknya jenis-jenis makanan yang justru langka di hari biasa,
  2. Meningkatnya permintaan pasar terhadap sembako yang mengakibatkan harga-harga naik.
Kondisi di atas sudah sejak lama dianggap biasa, malah sedemikian dinikmati oleh masyarakat. Bulan Ramadhan pada bagian-bagian tertentu telah disulap menjadi pesta tahunan kuliner yang berlangsung selama sebulan.

Tradisi yang sedemikian rupa telah menimbulkan tekanan hebat bagi mereka yang secara sosio ekonomi kurang beruntung, maka dampaknya adalah banyak yang menempuh jalan pintas dengan menghalalkan segala cara, misalnya saja mencuri. Maka sungguh ironis manakala di bulan yang suci angka kriminalitas malah meningkat.

Andaikata murni berpegang pada inti ajaran, dengan menapikan sejumlah tradisi konsumtif, maka ibadah puasa tentulah akan menumbuhkan sejumlah manfaat menuju ketaqwaan, bukan kemunkaran yang menuju mudharat.

Demikianlah artikel dari Situskita yang berjudul Puasa di antara Inti Ajaran dan Tradisi, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.

Lucky Bachtiar

Seorang blogger pemula yang tidak lagi muda